Langsung ke konten utama

Meditasi Murahan

Kita, manusia, yang hidup di bumi, sebagai orang yang waras, tidak mungkin tidak pernah mengalami yang namanya problema. Itu wajar. Problema apapun, apapun. Banyak sekali kategorinya. Bak pasir dilaut.
Dari yang kecil seperti biji sesawi, sampai sebesar batu karang, bikin pusing saja! Manakala itu terlalu rumit, terkadang buat putus asa.


Rasa sedih, marah, gembira, tertawa, sedikit menangis, seumpama karang menghiasi pinggiran pantai, begitupula menghiasi jiwa tatkala masalah menerpa sepanjang hidup. Aku pikir itu sebuah kekekalan, hukum alam, yang pasti terjadi.


Aku sendiri manusia, dan engkau pembaca, juga sama. Bisa dibuktikan. Saat aku menulis ini, dan kalian membacanya, syukurlah! kita punya otak, akal yang hidup. Mata, mata untuk melihat. Kita bernafas, itu juga bukti. Terakhir dan bukan akhir, kita punya badan rohani, yang tak terlihat, unseen, kata bang Andrea Hirata. Cukuplah buktinya.

Semua itu memberi arti, kita, sebagai manusia, akan menghadapi sang problema yang tak tahu kapan, dan dimana, mau tak mau pasti datang. Seolah waktu lah yang bermain.


"Andai aku jadi Tuhan, sebentar saja, sekali saja, dan aku mendapat sedikit ke-MahaKuasaanNya, maka aku, bisa melakukan apapun. Seperti membuat kenyataan dari hal yang menurut akal pikiran adalah mustahil"

Itu lah angan-angan bodoh ku beberapa masa yg lalu. Sedikit mengarang dan melebih-lebihkan sebenarnya. Di akhir cerita aku sadar, kebodohan yg dilebih lebihkan itu terkesan menampik kebenaran bahwa derajatku tak akan pernah, dan tak akan mungkin setara dengan Tuhan. Aku benar benar sudah gila 14 detik.
 Aku tersenyum getir, meringis dalam hati.
"Ampuni aku, Tuhan."

Aku kelelahan. Lelah karna tekanan sang problema. Lebih lelah dibandingkan dulu ketika aku dan teman-teman menantang belasan ekor anjing gelandangan di Pasar Purwodadi untuk lomba lari. Bedanya, bukan cuma capek di fisik, tetapi capek hati juga.

Ada saat aku diam merenung membuka lembaran kesulitan masa lalu yang menyedihkah tak terperi.
Ada hal-hal yang kusesali karna salahku sendiri, kadang meratapi nasib. Yang baik dari nasib, ia memberi banyak pelajaran, dan menjadikan manusia dewasa.
Sebenarnya aku lebih suka mengggunakan kalimat "Rencana Tuhan" daripada kata "nasib".

Kalau masalah berat sudah menghadang, aku sudah terbiasa merapal doa--atau, memerintah agar Tuhan berkenan mengabulkan harapan-- dan aku menikmatinya.
Kadang aku menghabiskan waktu diluar sembari mencari kesenangan demi melupakan problema problema itu. Aku berjalan kemana saja, tak tau arah dan merasakan kesunyian yang menghujam.

Sepanjang jalan "meditasi", beberapa orang kusapa, bahkan mobil yang parkir, kusapa juga.
Kulihat pohon kelapa dengan daunnya melambai diterpa angin, sepasang ibu-bapak dan anaknya yang didorong dalam kereta, melambai lambai dari kejauhan. Tapi aku tak mengenal mereka. Takut dikira tak sopan, terpaksa aku balas melambai dan menyapa. Mereka kebingungan. Bukan aku tujuan mereka


Sulit. Itu yg kurasakan untuk berhenti dari langkah orang tanpa tujuan. 

"Ah! Aku keliru sudah meragukan rencana Tuhan melalui masalah yg kualami, sampai terus-menerus diterpa kemurungan."

Ya. Sepanjang perjalanan itu, bisa disebut "meditasi murahan", aku sudah berusaha memahami banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi. aku pun mengerti dan hanya mampu berserah kepada Yang Maha Berkehendak.

Seperti yang kita tahu, dari masalah ekonomi, penyesalan masa lalu, masalah kesehatan, keamanan, masalah negara, persoalan rumah tangga, kehilangan domba, kerasukan setan, bencana alam, gangguan jiwa dan.....percintaan. Banyak lagi. Menjadi pembeda di kehidupan.

Mengenai percintaan, siapa yg tak pernah. Ini masalah tak biasa.
Aku ingat pernah membuat secarik surat yang tak pernah kukurim pada seseorang.


"Sebenarnya aku tau kita menyimpan keinginan yang sama. Sayang, tak ada diantara kita yang berani memulai. Aku, juga kamu, sama sama pemalu untuk urusan hati. Padahal aku tau, dan kau juga tau. "

Sepenggal surat yang kutulis untuk seseorang, perempuan istimewa, ia salah satu masalahku. Kami saling menunggu.

Entah kenapa tulisan ini mengalir ke percintaan, namun aku menyukainya. Aku masih pemuda, sedikit remaja.


Aku sadar, kita ada untuk bertualang di belantara kehidupan. Kita dapat menjadi orang yang merasa kurang beruntung karna mungkin tak memiliki harta berlimpah, menderita sakit mematikan, atau tak mampu membeli barang idaman. Tapi kita bisa memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, meraih segala impian, tak gentar akan masalah, dan bergairah memandang hari depan.

Komentar